Konspirasi dan nyinyiran banyak digaungkan daripada do'a, dzikir dan sholawat.
Tesis Yuval Noah Harari dalam Homo Deus menjelaskan bahwa Kelaparan, Penyakit, dan Perang adalah 3 hal yang tidak lagi ditakuti orang modern diakibatkan oleh sains dan teknologi. Dan perlahan manusia mulai meninggalkan agama.
Ngeri bukan main, lebih ngeri berhadapan dengan manusia daripada setan. Karena kita tidak tau niat yang terselip didalamnya.
Para aktivis berbondong-bondong menyuarakan hal positif dan beberapa bikin miris.
Ada yang menyulut api dengan bertanya salah siapa dan kenapa. Ada yang lebih beraksi dan menjawab pertanyaan bagaimana.
Pandemi ini merupakan jalan terbentuknya konsolidasi, antar tetangga, antar keluarga bahkan antara kau dan dirinya eaak..
Saling menerima dan memberi bantuan.
Beberapa daerah ada yang membuat dapur umum, ada yang hanya penggalangan dana, ada yang mengembangkan mekanisme jimpitan (kegiatan pengumpulan sesuatu (berupa uang atau beras) yang di lakukan dari rumah ke rumah, dengan jumlah yang sedikit (beras : satu genggam, uang : Rp. 500,-) secara kontinyu, sesuai keikhlasan/kerelaan pemberi. Tradisi orang jawa jaman dahulu) dan lain hal sebagainya.
Beberapa dari kita juga akan tersadar bahwa momentum fisik-sosial itu sangatlah berharga, kita lebih bisa menghargai setiap pertemuan yang ada.
Para pemuda dengan giat membantu untuk memberikan solusi dalam hal manajemen keuangan bagi warga yang bermata pencaharian di ekonomi-mikro serta mengadakan kegiatan produktif untuk #dirumahaja.
Para pembisnis berusaha agar tidak terjadi PHK massal di perusahaannya dan tetap bisa menggaji karyawannya.
Para pendidik sedang asyik dengan memainkan beberapa metode pembelajaran agar bisa diterima untuk khalayak pelajar.
Para peneliti yang berada di belakang panggung dan tak pernah tersinggung, sedang fokus dalam penyelesaian masalah ini.
Para tenaga medis yang berada dibarisan terakhir, berjuang untuk membantu para pasien agar imunnya bisa tetap tangguh dalam memerangi.
Para anggota pemerintah yang sedang kelimpungan memberikan kebijakan yang efektif serta efisien untuk kita. Semoga tidak ada unsur mencari sensasi atau kepentingan pribadi.
Para pihak terkait yang tidak bisa ku sebut dengan bidang keahlian mereka masing-masing.
Pahlawan kita yang sesungguhnya sebenarnya adalah diri, iya kamu, iya kita.
Kita adalah garda terdepan dari serangan pandemi ini. Mari bersatu, mengikuti anjuran dan melakukan protokol yang ada.
Jangan sampai chaos, dan merugikan banyak orang. Inget gak? Ada beberapa ayat dari Al-Qur'an yang memaksudkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Tetap jaga kesehatan fisik maupun mental ya, tetap jaga pikiran dari pengaruh hoax.
Sedikit cerita, di salah satu daerah Madura, ada info bahwa telur dapat menghindarkan diri dari CoViD-19, lalu menebarkan kepanikan untuk membeli barang tersebut.
Di salah satu negara, yang pastinya bukan Indonesia, mandi kotoran sapi, dapat menghindarkan diri dari penyakit CoViD-19.
Dan berita hoax unik lainnya, DUH!
Semangat menabur kebaikan, kita kuat kok. Rasanya baca berita malah bikin sakit hati dan emosi, mending nonton acara edukatif, TVRI. Banyakin ngaji daripada nyinyir yang tak berlandaskan konsep akademis. Kurangi halu dan untai rasa itu dalam tarian do'a semoga orang-tuanya setuju ehe~
Sabar, hingga pandemi ini berakhir, maka konsolidasi kita semakin terukir.
No comments:
Post a Comment