Friday, 24 April 2020

Mikul Dhuwur, Mendhem Jero.

Sesi berdialog diantara 2 (dua) pemimpin hebat, siapa lagi kalau bukan Pak Soekarno dan Pak Soeharto. Dalam hiruknya Jakarta yang dulu bukan itu namanya, Pak Karno bertanya kepada Pak Harto dalam bahasa Jawa "Harto, ajane aku iki arep kok apakne? Aku iki pemimpinmu. ( Harto, sebenarnya aku ini mau kamu apakan? Aku ini pemimpinmu.)". Anggap saja memang benar adanya dialognya sedemikian dengan wajah Pak Karno yang sedang gusar. Pak Harto menyahuti dengan jawaban yang sangat mengesankan. "Bapak Presiden, saya ini anak petani miskin. Tetapi ayah saya setiap kali mengingatkan saya untuk selalu menghormati orang tua. Saya selalu diingatkannya agar dapat mikul dhuwur mendhem jero terhadap orang tua." Mendengae hal tersebut Pak Karno mengiyakan dengan dertak kagum akan prinsip yang dimiliki Pak Harto.

Dari sini Pak Harto sempat menyinggung falsafah jawa :
"mikul dhuwur, mendhem jero"
Jika kita pisah-pisahkan perkata lalu mengartikannya maka, mikul adalah memikul atau diambil dari kata dasar pikul, lalu dhuwur adalah tinggi, mendhem adalah mengubur, dan jero adalah dalam (lubang itu sangat dalam). Ini merupakan falsafah jawa yang mengesankan. Saya mendapatkannya dari mbah laki-laki saya diceritanya ketika listrik padam saat saya masih menginjak bangku kelas 2 SMA. Mungkin sudah tradisi desa saya, listrik padam secara tiba-tiba, seluruh keluarga keluar dengan keluhnya masing-masing padahal hari sudah malam, pikirnya mereka ingin menonton TV dan menghadap kipas angin setelah seharian lelah dengan pencariannya. Beberapa keluarga malah pergi keluar dari desa, dengan alasan mencari makan alih-alih ingin kembali dan listrik sudah menyala lagi. Mbah laki-laki saya malah nggelar kasur tipis di teras rumah dengan senter besar yang biasanya digunakannya ketika nyari kodok disawah. Lain cerita ketika listrik padam bulan lalu, beliau menceritakan tentang masa kecilnya yang berkecimbung dengan unsur kelondo-an. Memang mbahku ini tidak lagi muda, namun beliau masih kanak-kanak ketika belanda dan jepang masuk ke desa kami. Beliaupun bercerita bahwa itu didapat dari bapaknya dulu. Cerita itu terasa turun-temurun dan semoga juga anak cucu saya akan tetap terkenang dengan cerita tersebut. Sayang sekali, dulu beliau tidak suka menulis dan lebih suka nyawah dan memiliki beberapa part cerita yang kalah dengan usia. Beliau menegaskan peribahasa mikul dhuwur, mendhem jero. Mengumpamakan dengan jenazah pada saat penguburan, dipikul setingginya, dan dipendam atau dikubur sedalam-dalamnya. Ah tidak, hanya kataku saja yang lebay. Ada ukuran dan kedalaman kok untuk mengubur jadi tenang saja. Apalagi kuburan di Jakarta sampai bisa ditumpuk (saya dapat cerita dari mudin yang mana kakek saya sendiri di Jakarta). Kembali lagi ke cerita mbah laki-laki saya, saya sempat kebingungan dengan perumpamaan yang beliau maksud, pada akhirnya beliau menjelaskan secara gamplang bahwa begitulah prinsip hidup.  Kita harus menghormati orang tua, dengan menjunjung tinggi martabatnya, dan memendam keburukannya baik saat masih hidup ataupun sudah tak lagi bernafas. Sayapun mulai menerka-nerka maksud perkatakaan beliau. Oh, iya saya dapatkan poinnya. Dimanapun kita, meskipun berbeda pendapat dengan yang tua, tetap hargai pendapatnya. Meskipun memiliki dendam kesumet tujuh turunan, kita harus tetap menjaga aibnya, ibaratnya tidak sampai ke mulut-mulut yang lain. Wah, padahal julid itu nikmat yah, tapi benar adanya, itu tidak baik.
Kata dosen manajemen keuangan saya, orang yang paling tinggi derajatnya adalah ia yang bisa memaklumi. Seburuk apapun dia tetap kita hargai.
Hal ini juga nyambung dengan ajaran Islam. Jika seseorang sudah meninggal dunia, maka kenanglah hal-hal yang baik tentangnya, dan bukan malah mengumbar keburukannya selama hidup di dunia. Hal tersebut tersurat dalam salah satu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mengatakan, “Ingatlah kebaikan orang-orang yang meninggal di antara kalian dan tahanlah dari menjelek-jelekkannya.” (HR. Imam Bukhari, Imam Thirmidzi, dan Imam Abu Dawud). Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengingatkan, “Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah meninggal dunia, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada hasil amalan yang mereka lakukan tatkala di dunia.” (HR. Imam Bukhari).

Meskipun arti yang saya paparkan berbeda dengan maksud Pak Harto yang berhubungan dengan politik, mungkin hal ini bisa kita jadikan prinsip hidup juga sebagai manusia, sayapun juga masih belajar, dan mari belajar bersama-sama.

No comments:

Post a Comment