Sunday, 26 April 2020

Kurangi Kopi

NOTED!

Tepat didepan muka, diatas meja tempat laptop ( bukan meja belajar ). tulisan KURANGI KOPI ada.
Berharap hal ini akan mengurangi candu kafein malah menjadi hal tabu. Disusul dengan berbagai deadline yang tertempel dan tergantung memang begitu benarnya. Adakah yang mengalami hal yang sama? Mulai berpikir bahwa hal itu terkesan "doyan nata" daripada rajin 😂.
Ah tidak selamanya demikian, kadang terlampaui rajin sampai dalam kurun waktu tak sampai 24 jam bisa menghasilkan 3 karya animasi, puisi dan musikalisasi atau bahkan lebih. Ini momen emas dan jarang terjadi. Ingin sekali raga ini mendapatkan ilham itu lagi.
Kopi?
Kalau ditanya soal macam-macam kopi, apalah otak cetek ini yang hanya bisa menghafal sedikit macam-macam kopi. Itupun hasil nyolong (ngobrol) dari sahabat sendiri. Mana mungkin aku meneliti lalu menggunakan ilmu literasi ditigal untuk memperoleh ilmu baru. Hahaha tidak selamanya begitu.
Diri ini hanya penikmat kopi saja, tak ada unsur lainnya selain main-main sama doi (laptop) dan mengurangi rasa kantuk dimalam hari. Namun, lambat laun rasanya menjerat dan bikin pening kalau sekali saja rutinitas itu terhenti. Wah, mulai mikir lagi, bahaya juga kalo bergantung sama kopi. Berurusan sama kamu aja bisa berujung sakit apalagi ini.
Memutuskan untuk jarang mengkonsumsi dan menggantikannya dengan kegiatan lain.
Apakah itu?
Membasuh..
Dan..

Merubah pola berpikir, yang semula dengan "kopi" rasa kantuk enggan menghampiri, kini dengan membasuh, kamupun akan menghampiri eh rasa segar akan menjumpai.


Pola pikir sangatlah berpengaruh dalam hidup kita, apalagi kita hidup di alam bawah sadar.

Kok bisa?
Coba kalau kamu pakai kemeja, berapa banyak kancingnya? Gak tau kan? Bahkan sampai gak sadar, hehe.

Jadi mulai dari sekarang, berpikirlah positif, maka apapun yang kamu lakukan insyaa Allah berujung positif juga.


Jangan Panik, And...

Woles aja kaleee~

Saturday, 25 April 2020

Pandemi Adalah Konsolidasi

Pandemi CoViD-19 ini menjadi momok untuk beberapa orang, termasuk saya sendiri. Sekiranya sudah ada 2 (dua) pekan saya tidak mencoba membuka berita mengenai corona virus entah di TV ataupun media sosial. Eh malah sering lewat, dan terbaca sampai buat hati tersayat. Ah greget kataku, sakit hati melihat beberapa diskriminasi dari oknum yang kurang paham akan protokol yang sudah diberlakukan pihak medis, ditambah lagi sama penimbun yang mementingkan kehidupan pribadi daripada bersama.

Konspirasi dan nyinyiran banyak digaungkan daripada do'a, dzikir dan sholawat.

Tesis Yuval Noah Harari dalam Homo Deus menjelaskan bahwa Kelaparan, Penyakit, dan Perang adalah 3 hal yang tidak lagi ditakuti orang modern diakibatkan oleh sains dan teknologi. Dan perlahan manusia mulai meninggalkan agama.

Ngeri bukan main, lebih ngeri berhadapan dengan manusia daripada setan. Karena kita tidak tau niat yang terselip didalamnya.
Para aktivis berbondong-bondong menyuarakan hal positif dan beberapa bikin miris.
Ada yang menyulut api dengan bertanya salah siapa dan kenapa. Ada yang lebih beraksi dan menjawab pertanyaan bagaimana.
Pandemi ini merupakan jalan terbentuknya konsolidasi, antar tetangga, antar keluarga bahkan antara kau dan dirinya eaak..
Saling menerima dan memberi bantuan.
Beberapa daerah ada yang membuat dapur umum, ada yang hanya penggalangan dana, ada yang mengembangkan mekanisme jimpitan (kegiatan pengumpulan sesuatu (berupa uang atau beras) yang di lakukan dari rumah ke rumah, dengan jumlah yang sedikit (beras : satu genggam, uang : Rp. 500,-) secara kontinyu, sesuai keikhlasan/kerelaan pemberi. Tradisi orang jawa jaman dahulu) dan lain hal sebagainya.
Beberapa dari kita juga akan tersadar bahwa momentum fisik-sosial itu sangatlah berharga, kita lebih bisa menghargai setiap pertemuan yang ada.
Para pemuda dengan giat membantu untuk memberikan solusi dalam hal manajemen keuangan bagi warga yang bermata pencaharian di ekonomi-mikro serta mengadakan kegiatan produktif untuk #dirumahaja.
Para pembisnis berusaha agar tidak terjadi PHK massal di perusahaannya dan tetap bisa menggaji karyawannya.
Para pendidik sedang asyik dengan memainkan beberapa metode pembelajaran agar bisa diterima untuk khalayak pelajar.
Para peneliti yang berada di belakang panggung dan tak pernah tersinggung, sedang fokus dalam penyelesaian masalah ini.
Para tenaga medis yang berada dibarisan terakhir, berjuang untuk membantu para pasien agar imunnya bisa tetap tangguh dalam memerangi.
Para anggota pemerintah yang sedang kelimpungan memberikan kebijakan yang efektif serta efisien untuk kita. Semoga tidak ada unsur mencari sensasi atau kepentingan pribadi.
Para pihak terkait yang tidak bisa ku sebut dengan bidang keahlian mereka masing-masing.
Pahlawan kita yang sesungguhnya sebenarnya adalah diri, iya kamu, iya kita.
Kita adalah garda terdepan dari serangan pandemi ini. Mari bersatu, mengikuti anjuran dan melakukan protokol yang ada.
Jangan sampai chaos, dan merugikan banyak orang. Inget gak? Ada beberapa ayat dari Al-Qur'an yang memaksudkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Tetap jaga kesehatan fisik maupun mental ya, tetap jaga pikiran dari pengaruh hoax.
Sedikit cerita, di salah satu daerah Madura, ada info bahwa telur dapat menghindarkan diri dari CoViD-19, lalu menebarkan kepanikan untuk membeli barang tersebut.
Di salah satu negara, yang pastinya bukan Indonesia, mandi kotoran sapi, dapat menghindarkan diri dari penyakit CoViD-19.
Dan berita hoax unik lainnya, DUH!

Semangat menabur kebaikan, kita kuat kok. Rasanya baca berita malah bikin sakit hati dan emosi, mending nonton acara edukatif, TVRI. Banyakin ngaji daripada nyinyir yang tak berlandaskan konsep akademis. Kurangi halu dan untai rasa itu dalam tarian do'a semoga orang-tuanya setuju ehe~
Sabar, hingga pandemi ini berakhir, maka konsolidasi kita semakin terukir.

Friday, 24 April 2020

Mikul Dhuwur, Mendhem Jero.

Sesi berdialog diantara 2 (dua) pemimpin hebat, siapa lagi kalau bukan Pak Soekarno dan Pak Soeharto. Dalam hiruknya Jakarta yang dulu bukan itu namanya, Pak Karno bertanya kepada Pak Harto dalam bahasa Jawa "Harto, ajane aku iki arep kok apakne? Aku iki pemimpinmu. ( Harto, sebenarnya aku ini mau kamu apakan? Aku ini pemimpinmu.)". Anggap saja memang benar adanya dialognya sedemikian dengan wajah Pak Karno yang sedang gusar. Pak Harto menyahuti dengan jawaban yang sangat mengesankan. "Bapak Presiden, saya ini anak petani miskin. Tetapi ayah saya setiap kali mengingatkan saya untuk selalu menghormati orang tua. Saya selalu diingatkannya agar dapat mikul dhuwur mendhem jero terhadap orang tua." Mendengae hal tersebut Pak Karno mengiyakan dengan dertak kagum akan prinsip yang dimiliki Pak Harto.

Dari sini Pak Harto sempat menyinggung falsafah jawa :
"mikul dhuwur, mendhem jero"
Jika kita pisah-pisahkan perkata lalu mengartikannya maka, mikul adalah memikul atau diambil dari kata dasar pikul, lalu dhuwur adalah tinggi, mendhem adalah mengubur, dan jero adalah dalam (lubang itu sangat dalam). Ini merupakan falsafah jawa yang mengesankan. Saya mendapatkannya dari mbah laki-laki saya diceritanya ketika listrik padam saat saya masih menginjak bangku kelas 2 SMA. Mungkin sudah tradisi desa saya, listrik padam secara tiba-tiba, seluruh keluarga keluar dengan keluhnya masing-masing padahal hari sudah malam, pikirnya mereka ingin menonton TV dan menghadap kipas angin setelah seharian lelah dengan pencariannya. Beberapa keluarga malah pergi keluar dari desa, dengan alasan mencari makan alih-alih ingin kembali dan listrik sudah menyala lagi. Mbah laki-laki saya malah nggelar kasur tipis di teras rumah dengan senter besar yang biasanya digunakannya ketika nyari kodok disawah. Lain cerita ketika listrik padam bulan lalu, beliau menceritakan tentang masa kecilnya yang berkecimbung dengan unsur kelondo-an. Memang mbahku ini tidak lagi muda, namun beliau masih kanak-kanak ketika belanda dan jepang masuk ke desa kami. Beliaupun bercerita bahwa itu didapat dari bapaknya dulu. Cerita itu terasa turun-temurun dan semoga juga anak cucu saya akan tetap terkenang dengan cerita tersebut. Sayang sekali, dulu beliau tidak suka menulis dan lebih suka nyawah dan memiliki beberapa part cerita yang kalah dengan usia. Beliau menegaskan peribahasa mikul dhuwur, mendhem jero. Mengumpamakan dengan jenazah pada saat penguburan, dipikul setingginya, dan dipendam atau dikubur sedalam-dalamnya. Ah tidak, hanya kataku saja yang lebay. Ada ukuran dan kedalaman kok untuk mengubur jadi tenang saja. Apalagi kuburan di Jakarta sampai bisa ditumpuk (saya dapat cerita dari mudin yang mana kakek saya sendiri di Jakarta). Kembali lagi ke cerita mbah laki-laki saya, saya sempat kebingungan dengan perumpamaan yang beliau maksud, pada akhirnya beliau menjelaskan secara gamplang bahwa begitulah prinsip hidup.  Kita harus menghormati orang tua, dengan menjunjung tinggi martabatnya, dan memendam keburukannya baik saat masih hidup ataupun sudah tak lagi bernafas. Sayapun mulai menerka-nerka maksud perkatakaan beliau. Oh, iya saya dapatkan poinnya. Dimanapun kita, meskipun berbeda pendapat dengan yang tua, tetap hargai pendapatnya. Meskipun memiliki dendam kesumet tujuh turunan, kita harus tetap menjaga aibnya, ibaratnya tidak sampai ke mulut-mulut yang lain. Wah, padahal julid itu nikmat yah, tapi benar adanya, itu tidak baik.
Kata dosen manajemen keuangan saya, orang yang paling tinggi derajatnya adalah ia yang bisa memaklumi. Seburuk apapun dia tetap kita hargai.
Hal ini juga nyambung dengan ajaran Islam. Jika seseorang sudah meninggal dunia, maka kenanglah hal-hal yang baik tentangnya, dan bukan malah mengumbar keburukannya selama hidup di dunia. Hal tersebut tersurat dalam salah satu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mengatakan, “Ingatlah kebaikan orang-orang yang meninggal di antara kalian dan tahanlah dari menjelek-jelekkannya.” (HR. Imam Bukhari, Imam Thirmidzi, dan Imam Abu Dawud). Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengingatkan, “Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah meninggal dunia, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada hasil amalan yang mereka lakukan tatkala di dunia.” (HR. Imam Bukhari).

Meskipun arti yang saya paparkan berbeda dengan maksud Pak Harto yang berhubungan dengan politik, mungkin hal ini bisa kita jadikan prinsip hidup juga sebagai manusia, sayapun juga masih belajar, dan mari belajar bersama-sama.