Friday, 1 May 2020

Pemberhentian Kerja -( MAU MAKAN APA )-

Selamat Hari Buruh Sedunia
Selamat ataukah ahsudahlah..
May Day tahun ini adalah masa kelam bagi para buruh di Indonesia, bagaimana tidak? Ancaman PHK yang makin nyata dan bahkan di sebagian daerah sudah terjadi akibat mbak rona yang tak kunjung pulang ini. Ditambah lagi dengan adanya RUU Cipta Kerja Omnibus Law yang tertunda, bukan malah dihapuskan seperti tuntutan para buruh. Hak untuk cuti, delapan jam kerja, hak berserikat, hak untuk mendapatkan pesangon, hak untuk kesehatan, hak untuk mendapatkan hari libur, hingga kesetaraan upah bagi seluruh gender adalah hak yang harusnya diperoleh oleh kaum buruh.
Hal ini diperjelas lagi oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memprediksi bahwa pada kuartal kedua 2020, ada sekitar 1,6 miliar pekerja sektor informal terancam kehilangan pekerjaannya disaat pandemi ini. Beberapa perusahaanpun hanya memiliki tabungan cashflow hanya untuk beberapa bulan kedepan bahkan hampir habis karena beberapa cicilan perusahaan maupun pemilik, kinerja mulai menurun dan beberapa investor menarik investasinya, hal ini yang menyebabkan para buruh terancam untuk kehilangan pekerjaannya karena perusahaan kelimpungan untuk menggaji karyawannya.


Siapa yang patut disalahkan atas kejadian ini?
Mohon maaf para netijen yang budiman, untuk keadaan pandemi ini, kita tidak bisa semerta-merta menyalahkan pemerintah atas banyaknya PHK yang ada. Dampak yang dirasakan pandemi ini juga tidak hanya dirasakan oleh negeri kita tercinta saja, tapi juga masyarakat global.
Agak menyayangkan dengan kartu prakerja yang menyediakan pelatihan berbayar, namun tidak disesuaikan dengan lingkungan daerahnya. Kalau boleh saja saya menyuarakan, lebih baik pelatihan itu digunakan untuk anak negeri kita tercinta yang lebih suka berkonten joget-joget agar bisa membuat konten yang lebih bermanfaat dan edukatif. Digitalisasinya keduluan dari pada edukasi tentang literasi digitalnya. Ada yang punya ide untuk warisan bangsa sekarang ini?
Perkiraan pandemi ini akan berakhir dibulan Juni/Juli, jikalau kita mematuhi kebijakan yang sudah ditetapkan. Kebijakan gak masuk akal, mau makan apa kalau begini terus, mati gak kena korona malah kelaperan. Kawanku, saudaraku dan sobatku sekalian, ini lah saatnya kita untuk saling menguatkan dan memunculkan ide kreatif yang membentuk "a new habit" (sedih sekali mendengarnya)

Buruh bukan hanya buruh pekerja dari perusahaan tertentu saja. Ada yang pernah dengar mengenai buruh pertani? Sering kali terdengar namun kerap kali terabaikan.
Adakah jaminan kesejahteraan bagi buruh tani?

TIDAK ADA. 

Buruh tani bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan. Dari subuh sampai larut petani tetap semangat ngelaut demi kebutuhan pokok kita, hal yang paling disayangkan ketika hasil tanamannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Padahal kalau kita beli kebutuhan pokok mahal sekali, tapi buruh tani masih dapat upah yang kecil. Siapa yang untung? Mari kita belajar ekonomi hahaha.
Adakah jaminan perlindungan bagi buruh tani?

TIDAK ADA.

Buruh tani dari subuh sampai larut bekerja, malampun harus kembali ke ladang untuk memastikan hama duduk diam dirumah. Buruh tani terluka akibat pekerjaannya diladang. Jatuh dari sepeda saat membawa hasil panen bahkan sampai kepacul, mereka tetap berobat dengan biaya sendiri. Menuliskan ini, saya teringat akan mbah laki-laki saya, yang waktu itu jahit kakinya sendiri dengan benang. Sakti bukan main orang jaman dahulu itu.

Pekerjaan yang dianggap remeh ini begitu mulia. Mereka menghasilkan kebutuhan primer kita. Tidak ada yang namanya pelatihan ketrampilan, jaminan kesejahteraan dan jaminan perlindungan. Mereka tetap bergerak demi mencukupi kebutuhan pokok kita.

Menyedihkan sekali bukan, sekarang banyak anak muda yang lebih memilih kerja dikantor daripada ke sawah membantu kedua orang tuanya. Begitupun dengan saya yang dahulu kurang peka terhadap hal ini. Hingga sekarang lahan persawahan banyak digantikan dengan pabrik-pabrik. Lalu sampai kapan lingkaran setan ini akan berputar?
Mari refleksikan diri dan mencintai pekerjaan kita yang sekarang ini, dalam artikan berdedikasi semaksimal mungkin.
Ladang emas ada didepan mata, tinggal kita mau atau tidak untuk mengolahnya.

Oh iya, sedikit bertanya-tanya mengenai beberapa pernyataan tentang "biar kami yang bekerja untuk investor, kalian dirumah aja". Mengapa bukan kita yang menjadi investor tersebut? Bukankah sama saja? Kita bekerja untuk diri kita sendiri.




Salam rahayu, semangat perjuangan.πŸ’“πŸŒΎπŸ

No comments:

Post a Comment