Sunday, 8 August 2021

Harusnya Lebih Bersyukur

Kepikiran ini pas dengerin lagunya Billie Eillish dengan album terbarunya "happier than ever".

Baru nyadar lagi ternyata umur sudah hampir menginjak 22tahun setengah tahun lagi, tapi belum sehebat teman-temanku diluar sana. memiliki gelar yang hebat, previlege yang sungguh membuatku iri, menjadi mentor skala lebih besar lagi sedang aku masih stuck di tempat. Setelah itu aku mulai merasa tidak nyaman dengan segala hal yang aku lakukan, bahkan hal yang aku sukai pun terasa menekanku untuk menjadi yang terbaik diantaranya. Apalagi rasa sesak yang terus menerus menyudutkan di rumah, tempatku pulang kini hilang. Pasangan yang seringkali menghindar untuk ajakan diskusi-diskusi guna mempererat komunikasi pun kian hari kian samar.. Saat itupun aku mulai tak merasa aman lagi dan lagi. Selain itu, aku menjumpai bahwa diriku makin lama ingin sekali tenggelam dalam keterpurukan karena banyaknya kegagalan yang datang terus menerus. Menyerangku secara bertubi-tubi tanpa hentinya. Banyak hal yang dikeluhkan sampai aku lupa diri kalau diri masih belum baik, masih sering futur (astagfirullah) dan lupa akan nikmatNya.. Lalu ada seseorang yang meminta ijin untuk share materi yang pernah ku berikan tahun lalu, dan ia merasa berterimakasih telah diberikannya seni komunikasi dalam tim yang lumayan complicated itu. Aku sadar bahwa aku jauh dikata cukup, meskipun dulu pernah memberikan mentoring itu dengan hasil mentorship yang pernah aku dapat di Indika Foundation tahun 2019 saat itu, implementasiku tak sebagus dia. Disusul lagi dengan magang merdeka dari Pemkot Kediri, ternyata banyak yang berekspetasi aku mampu melewatinya, bahkan ada seseorang yang dengan sengaja stalk akun media sosialku dan memberitahuku "kamu cewek yang pintar dan multitalent loh, Den". Masyaa Allah, apa yang perlu dibanggakan dari aku yang belum bisa menerima diriku sendiri ini. Tentu, hasilnya aku tidak bisa melalui program magang tersebut. Program KMMI dari ITB, saat proses seleksi terdapat kuisoner capaian atas hasil usaha selama ini. Aku mikir keras, selama ini aku hanya menaruh separuh hati lalu pergi mencari jajakan lain karena aku gak sanggup menerima kosekuensi kegagalanku dimasa mendatang. Aku memutuskan untuk tidak mengisi formulir tersebut. Tibalah sesi deep talk dengan salah influencer, membahas secara mendalam tentang satu topik untuk menemukan akar masalahnya. Kebetulan topik tersebut adalah tentang komunikasi dalam diri, keluarga dan pekerjaan. Suatu hal komplit yang sedang membayangi diriku kini. Entah, Allah begitu baik sekali, membantuku dengan cara yang tak terduga. Menyadarkanku akan apa yang aku miliki dan syukuri. Aku hanya merasa takut bila konsekuensinya tak sejalan dengan logikaku. Aku selama ini egois terus menerus menyalahkan keadaan namun enggan beradaptasi dengan keadaan. Mencoba untuk mengimplementasikan ilmu yang pernah aku terima pun berikan secara mendalam, bukan kelihatannya. Aku masih belum memiliki rencana secara mendetail dan hendaknya kapan aku akan meraihnya. Catatan usangku terlalu bias jika dijabarkan. Aku selalu mudah tertarik akan sesuatu sehingga dengan mudah melepas sesuatu yang seharusnya aku pelajari lebih dalam. Seharusnya aku bersyukur.. Aku masih memiliki kedua orang tua yang masih utuh dan masih bisa berbicara pun berdiskusi. Aku hanya takut disudutkan lagi jika menceritakan keputusan yang hendak aku ambil. Aku masih memiliki previlege yang lebih banyak daripada temanku yang lain, masih memiliki upah sehingga bisa membantu bapak-ibu nyicil utang dan rentetan tagihan tiap bulannya. Masih bisa ikut webinar sana-sini dengan fasilitas yang mewadai. Masih bisa bayar SPP selama 2 tahun ini secara mandiri, dan berikutnya didukung penuh sama pasangan, bahkan untuk sesi mentorship aku. Masih nyalahin pasangan karena gak kasih kabar?🥰 Aku harusnya lebih bersyukur masih bisa melakukan hal receh saat yang lain harus mati-matian demi bertahan hidup.

Kini kamu harus mantep dengan rencanamu, rencana yang sesungguhnya, dengan dukungan usaha yang sesungguhnya.. Perbaiki komunikasimu dengan orang terdekatmu dulu, usah berfokus terhadap sesuatu yang tak dapat kau kendalikan.. Lalu, bagaimana caramu menghadapi rasa iri terhadap teman-temanmu? Ingat saat sesi deeptalk dengan @kurniawangunadi kemarin, bersyukurlah.. circle tersebut akan menyokong previlege kehidupan anak-anakmu mungkin, saudaramu mungkin, atau orang terdekatmu mungkin di masa depan. We don't know about that. Seharusnya aku bersyukur.. dan berlari lebih kencang untuk bisa dekat dengan ridhoNya...